Jakarta (RADARIBUKOTA) – Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), melakukan panggilan telepon penting kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Selasa, 27 Januari 2026. Dalam percakapan tersebut, MBS menegaskan bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk serangan militer terhadap Iran.
Namun, perkembangan dramatis terlihat kurang dari seminggu setelah pernyataan tersebut. Adik Putra Mahkota, Pangeran Khalid bin Salman (KBS), mengadakan pertemuan rahasia di Gedung Putih, Amerika Serikat, pada Kamis, 29 Januari 2026, bersama pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, membahas kemungkinan serangan AS terhadap Iran.
Perubahan Sikap Arab Saudi Terhadap Iran
Arab Saudi sebelumnya telah memperingatkan risiko perang regional jika AS menyerang Iran, namun kini menunjukkan indikasi sebaliknya. Dalam pertemuan di Washington, Pangeran Khalid mengindikasikan bahwa jika Presiden Donald Trump tidak mengambil tindakan keras terhadap Iran, rezim di Teheran akan semakin kuat.
Hal ini mengindikasikan perubahan tajam dalam kebijakan luar negeri Arab Saudi, dari yang semula berupaya mencegah serangan militer menjadi memberikan ‘lampu hijau’ secara diplomatik. Perubahan ini mungkin karena Arab Saudi menilai bahwa Trump telah memutuskan untuk menyerang Iran dan tidak ingin disebut sebagai penghalang langkah tersebut.
Latar Belakang Konflik dan Diplomasi
Konflik antara Amerika Serikat, Iran, dan Arab Saudi merupakan bagian dari dinamika geopolitik Timur Tengah yang kompleks. Isu utama yang melanda adalah program nuklir Iran dan pengaruh regional antar negara-negara tersebut. Untuk konteks lebih dalam mengenai isu ini, pembaca dapat mengunjungi Wikipedia: Timur Tengah.
Untuk menambah wawasan mengenai perkembangan geopolitik dan kebijakan luar negeri, artikel terkait sebelumnya di Berita Terkini kami juga membahas isu-isu penting global yang sedang berlangsung.
Dalam pembicaraan telepon MBS dengan Presiden Iran, selain penegasan tentang kedaulatan wilayah, juga dibahas perkembangan terbaru mengenai pembicaraan isu nuklir. Hal ini menandakan pendekatan diplomasi yang masih dilaksanakan meskipun ada tekanan militer meningkat.
Respons dan Risiko di Kawasan Timur Tengah
Seorang pejabat Teluk menyatakan bahwa kawasan ini

